8 Strategi Agar Pasien Rumah Sakit Tidak Tertular Pasien COVID-19

Jangan sampai tertular! Supaya bisa berobat atau berkunjung ke rumah sakit dengan tenang, ikuti dulu protokol dan tips strategis berikut.

Selain mempercayakan pada fasilitas kesehatan yang tersedia dan melengkapi diri dengan strategi pencegahan penularan COVID-19, jangan lupa mempersiapkan asuransi PFI Mega Life Indonesia untuk melindungi diri dari berbagai penyakit. PFI Mega Life menyediakan berbagai jenis asuransi khusus rumah sakit dengan manfaat maksimal.

Hingga ditemukannya vaksin yang terbukti efektif dan bisa didistribusikan dengan global, mau tak mau kita semua harus hidup berdamai terhadap coronavirus. Ini artinya, siapa pun harus ekstra hati-hati dan menerapkan protokol kesehatan demi mencegah penularan COVID-19.

Termasuk juga pasien rumah sakit, baik yang rawat jalan maupun rawat inap, tetap harus memperhatikan seluruh prosedur yang tepat supaya jangan sampai terkena virus ini saat mendatangi atau bermalam ke rumah sakit.

Yuk, jangan sampai menunda perawatan penting yang malah akan memperburuk kesehatan. Cek dulu panduan aman pasien rumah sakit agar tidak tertular coronavirus berikut.

Perlukah Menunda Kunjungan ke Rumah Sakit?

Pada awal masa pandemi, banyak sekali himbauan seputar penundaan perawatan coronavirus supaya tidak sampai tertular. Informasi dari beberapa sumber perhimpunan dokter menyebutkan, pasien rumah sakit harus lebih jeli dalam mengetahui kondisi diri sebelum gegabah berkunjung untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Disarankan memeriksakan diri ke rumah sakit hanya jika dalam kondisi darurat, demi meminimalkan kontak dan risiko penularan coronavirus. Terkecuali kondisi kesehatan yang sangat mendesak, sebaiknya berdiam di rumah sambil tetap menjaga kesehatan dengan cara-cara manual.

Jika sudah termasuk dalam kondisi darurat, berikut adalah beberapa pengecualian yang bisa dijadikan sebagai rujukan supaya pasien rumah sakit mengambil keputusan dan berkunjung ke rumah sakit atau dokter:

Kondisi Gawat Darurat Khusus untuk Penderita Penyakit Jantung:

  • Sesak yang memburuk saat posisi tidur.
  • Sesak yang mengakibatkan tidak bisa tidur dengan posisi rata atau harus menggunakan lebih dua bantal.
  • Sesak yang disertai batuk riak berdahak merah.
  • Nyeri dada yang seperti ditindih atau ditimpa beban berat.
  • Nyeri dada yang menjalar ke lengan atau punggung atau leher.
  • Nyeri dada disertai mual, muntah dan, keringat dingin.

Kondisi Gawat Darurat untuk Penderita atau Kondisi Vaskular/Pendarahan:

  • Akses hemodialisa yang macet.
  • Terjadi kecelakaan atau cedera yang dicurigai terkena bagian pembuluh darah.
  • Nyeri hebat pada tungkai atau lengan disertai dengan rasa dingin atau warna kulit menjadi kebiruan.
  • Nyeri pada tungkai disertai bengkak dan kulit kemerahan.
  • Borok pada kaki penderita diabetes yang disertai demam.
  • Benjolan berdenyut pada perut yang disertai nyeri.

Kondisi Gawat Darurat untuk Pasien Anak:

  • Demam Tinggi 3 hari atau lebih.
  • Diare atau muntah berkepanjangan.
  • Sesak nafas.
  • Anak tidak mau makan dan minum dengan potensi dehidrasi.
  • Mengalami pendarahan serius.
  • Bentol kemerahan di sekujur tubuh.
  • Kejang dua kali atau lebih.
  • Anak mengalami penurunan kesadaran atau tidak aktif.

Catatan khusus yang dikutip dari Ikatan Dokter Indonesia Jakarta, imunisasi anak dapat ditunda maksimal 2 minggu. Ini dilanjutkan konsultasi dengan dokter anak masing-masing untuk memastikan kebutuhan dan jadwal kunjungan.

Kondisi Gawat Darurat untuk Pasien Gigi:

  • Pendarahan yang tidak dapat berhenti.
  • Infeksi atau bengkak sehingga sulit bernapas.
  • Gigi lepas mendadak.
  • Sakit gigi tidak tertahankan.

Kondisi Gawat Darurat untuk Pasien Kulit dan Kelamin:

  • Mengalami keluhan kulit melepuh yang lebar dan serius.
  • Mengalami lepuh yang disertai lecet di mata, mulut dan kelamin.
  • Biduran atau kaligata dengan bengkak di mata atau bibir.
  • Ruam kulit yang meluas dengan atau tanpa demam.
  • Bercak kulit yang disertai nyeri hebat.

Kondisi Gawat Darurat untuk Pasien Hamil:

  • Muntah berat.
  • Pendarahan.
  • Kontraksi atau nyeri perut hebat.
  • Pecah ketuban atau tanda-tanda melahirkan.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Nyeri kepala hebat.
  • Tidak merasakan gerakan janin.
  • Kejang.

Kondisi Gawat Darurat untuk Pasien Gangguan Kejiwaan atau Psikis:

  • Pikiran atau perilaku bunuh diri.
  • Perilaku kekerasan yang membahayakan diri sendiri atau orang lain.
  • Perilaku atau emosi yang tidak terkontrol.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia menyarankan, apabila terdapat gangguan pada pikiran, perasaan dan perilaku; terlebih dulu melakukan manajemen stres, relaksasi, dan melakukan komunikasi dengan keluarga atau orang dekat yang tepat.

Kondisi Gawat Darurat Lain yang Membutuhkan Pertolongan Segera:

  • Kecelakaan lalu lintas.
  • Luka tusuk atau luka terbuka anggota tubuh.
  • Keguguran.

8 Strategi agar Pasien Rumah Sakit Tidak Tertular COVID-19

Setelah mengamati kondisi Anda, apakah cukup tergolong gawat darurat sehingga membutuhkan kunjungan sebagai pasien rumah sakit, jangan lupa untuk tetap menerapkan protokol dan kehati-hatian supaya tidak sampai terpapar coronavirus.

  1. Riset Sebelum Berangkat

Pemerintah telah merujuk lebih dari 130 rumah sakit untuk penanganan khusus virus corona. Namun, ada pula rumah sakit swasta yang juga melayani pasien rumah sakit virus corona. Karena itu, Anda sebaiknya mencari tahu informasi sebanyak mungkin tentang rumah sakit yang akan dikunjungi, sebelum melakukan temu janji dengan dokter atau spesialis.

Anda bisa mengunjungi situs resmi atau menghubungi staf rumah sakit untuk menanyakan hal-hal sebagai berikut:

  • Protokol kesehatan yang diwajibkan, termasuk untuk staf dan pengunjung rumah sakit.
  • Protokol pembersihan dan upaya sanitasi untuk ruang pemeriksaan, ruang tunggu, kamar mandi, lift dan area dengan permukaan yang sering disentuh.
  • Praktik physical distancing atau jaga jarak di area pendaftaran, area tunggu, dan ruangan pemeriksaan.
  • Batasan jumlah pengunjung untuk ruang klinik dan ruang pemeriksaan.
  • Prosedur pemeriksaan suhu pada setiap pintu masuk.
  • Upaya khusus, isolasi terpisah atau instruksi khusus untuk pasien rumah sakit yang mengidap COVID-19.
  • Perlengkapan APD untuk perawatan dan dokter di rumah sakit.
  • Ketersediaan layanan online untuk pemeriksaaan kesehatan.

Seluruh informasi yang anda dapatkan akan menjadi hal yang penting untuk menilai apakah rumah sakit sudah cukup mengambil langkah pencegahan untuk melindungi calon pasien rumah sakit. Ini juga membantu Anda melakukan langkah persiapan yang tepat supaya kunjungan saat berobat tetap nyaman dan aman.

  1. Lakukan temu janji dan cari tahu informasi lanjut

Setelah mengetahui hal-hal dasar tentang rumah sakit secara keseluruhan, Anda sudah siap untuk melakukan temu janji sesuai jam yang paling aman dan tersedia. Supaya semakin bebas dari risiko tertular, ada baiknya melakukan telepon untuk mengkonfirmasi hal-hal khusus dengan staf yang akan membantu saat kunjungan Anda nanti.

Pertanyaan yang bisa Anda ajukan adalah:

  • Memastikan jadwal kunjungan untuk meminimalkan waktu tunggu.
  • Kewajiban masker atau protokol khusus dari dokter/spesialis Anda.
  • Pertanyaan seputar pembayaran, asuransi, dll.
  • Pengambilan obat atau tebus resep.
  • Hal-hal spesifik terkait kondisi Anda, misalnya apakah boleh didampingi selama pemeriksaan atau ada batasan tertentu.

Strategi ini lebih bersifat pertanyaan khusus yang berkaitan dengan kondisi pemeriksaan Anda. Tujuannya adalah menyiapkan hal-hal terkait kunjungan Anda sebagai pasien rumah sakit. Semakin Anda tahu, semakin kecil kemungkinan berlama-lama di rumah sakit dan meminimalkan kemungkinan terpapar penyakit lainnya.

  1. Siapkan hal-hal yang dibutuhkan

Beberapa perlengkapan yang wajib ada pada masa pandemi sudah harus tersedia sebelum Anda berangkat sebagai pasien rumah sakit, seperti masker, hand sanitizer, tisu kering dan basah, tas yang praktis untuk menyimpan barang bawaan, barang pribadi yang mungkin dibutuhkan jika harus menginap, identitas diri, serta alat pembayaran.

  1. Memperhatikan keselamatan diri

Tidak ada orang yang paling bertanggung jawab terhadap keselamatan diri selain diri Anda sendiri. Karena itu, ingatlah untuk melakukan protokol standar saat memeriksakan diri sebagai pasien rumah sakit:

  • Gunakan masker.
  • Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik atau gunakan hand sanitizer.
  • Hindari memegang permukaan yang tidak perlu.
  • Hindari memegang area mata, mulut, dan hidung.
  • Melakukan etika batuk, seperti batuk dan bersin dengan ditutupi tisu atau ke bagian siku.
  1. Menghindari kerumunan (jaga jarak)

Jaga jarak adalah salah satu tips yang sangat efektif untuk menghindari dari tertular virus corona, baik sebagai pasien rumah sakit ataupun warga yang bertanggung jawab. Dengan menjaga jarak minimal 2 meter dari orang lain, Anda bisa membantu memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Hal ini dikarenakan penyebaran COVID-19 yang melalui percikan air (droplet) yang mungkin dikeluarkan melalui batuk atau bersin penderita. Melakukan physical distancing alias jaga jarak, potensi tertular walaupun di rumah sakit akan semakin kecil. Karena itu, usahakan agar tidak terlalu berdekatan dengan siapa pun saat di rumah sakit.

  1. Mempersingkat waktu di rumah sakit

Selain ditularkan melalui droplet, temuan baru juga mengungkapkan virus corona berpotensi ditularkan melalui partikel di udara. karena itu, protokol jaga jarak akan lebih maksimal jika juga mempersingkat waktu di rumah sakit, yaitu tidak berlama-lama sehingga tidak terpapar.

Jika kondisi ruang tunggu sangat ramai, sebaiknya Anda mendaftar kepada staf perawat dan meninggalkan nomor kontak. Anda lalu bisa melanjutkan menunggu dokter atau giliran di luar rumah sakit, misalnya di area yang lebih sepi, area yang punya sirkulasi udara baik, bagian luar rumah sakit yang terkena sinar matahari, atau di mobil pribadi. 

Terapkan prinsip yang sama saat menyelesaikan pembayaran dan menebus obat resep, misalnya dengan mengambil obat di apotek atau memilih layanan pengiriman.

  1. Membersihkan diri setelah pulang ke rumah

Menjaga higienitas adalah hal yang penting demi menghindari tertular dari penyakit COVID-19. Setelah selesai melakukan pemeriksaan sebagai pasien rumah sakit, segera mandi dan bertukar pakaian bersih sebelum beraktivitas kembali di rumah dengan anggota keluarga. Sebelumnya, perhatikan juga untuk membuka sepatu dan tidak berinteraksi secara langsung sebelum yakin sudah membersihkan diri dengan saksama.

  1. Mempertimbangkan layanan pemeriksaan secara online

Berkat kecanggihan di dunia kedokteran, layanan telemedicine atau konsultasi online bukan lagi hal baru pada masa pandemi ini. Ada baiknya Anda mencari tahu apakah ada pilihan untuk berkonsultasi sebagai pasien rumah sakit, tanpa harus berkunjung ke rumah sakit. Selain itu, Anda bisa meminta layanan konsultasi via telepon atau cara lain yang tidak mengharuskan kunjungan langsung ke rumah sakit.

Tenang & Nyaman Sebagai Pasien Rumah Sakit

Baik pada masa pandemi ataupun tidak, setiap rumah sakit dan pelayanan kesehatan umumnya pasti sudah menjalankan manajemen rumah sakit yang paling nyaman dan aman. Karena itu, strategi di atas akan semakin menjauhkan Anda dari potensi tertular saat memeriksakan diri ke rumah sakit.

Dapatkan Mega Hospital Investa yang bisa memberikan santunan rawat inap untuk pasien rumah sakit (ICU dan Non-ICU), pengembalian premi, serta santunan meninggal dunia. Ada pula Mega Comforta sebagai produk asuransi jiwa berjangka untuk manfaat terhadap penyakit kritis dan manfaat meninggal dunia. Apapun kebutuhan Anda dan keluarga sebagai pasien rumah sakit, PFI Mega Life siap memberikan solusinya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.