Bacaan Niat Puasa Nazar dan Penjelasan Lengkapnya

Apakah anda sering mendengar istilah nazar? Atau anda sudah mengetahui dan pernah melakukan puasa nazar? Sebenarnya apa itu nazar? Apa saja jenisnya dan bagaimana bacaan niat puasa nazar? Kali ini saya ingin berbagi sedikit informasi mengenai serba-serbi NAZAR.

1. Pengertian Puasa Nazar

Nazar itu secara ringkasnya adalah berjanji untuk melakukan sesuatu karena telah mendapatkan sesuatu. Nah, secara etimologi nazar memiliki arti berjanji akan melakukan sesuatu yang baik atau buruk. Dalam terminologi syariah nadzar adalah menetapkan atau mewajibkan melakukan sesuatu yang secara syariah asal tidak wajib , seperti seorang yang mengatakan,”Demi Allah aku harus mensedekahkan uang dengan jumlah sekian,” atau,”Apabila Allah menyembuhkan penyakitku maka wajib bagiku untuk berpuasa tiga hari.” Atau lafazh-lafazh yang seperti itu. (Fiqhus Sunnah juz III hal 33).

Kita sering mendengar beberapa orang atau bahkan kita sendiri disaat kita ujian sekolah (terutama ujian akhir SMA atau kulias), kita berucap “Ya Alloh jika aku lulus ujian ini aku berjanji akan puasa selama 3 hari”, atau kita berucap “Ya Alloh jika aku bisa mendapatkan tiket kereta api agar aku bisa pulang ke kampung halaman maka aku akan puasa 2 hari”, atau juga “Ya Alloh tolong berhasilkan dan lancarkanlah proyek ini, jika proyek ini berhasil aku berjanji akan menginfakkan uang yang aku dapat 10% ke panti asuhan”. Nah, kasus diatas ini termasuk kedalam nazar.

Tahukah kamu, sebaiknya kita dianjurkan untuk menjauhi perbuatan atau melakukan nazar ini. Bahkan, mayoritas ulama memakruhkan melakukan perbuatan nazar ini. Hal ini dikarenakan seseoarang yang melakukan nazar itu termasuk pelit, karena mereka melakukan sesuatu yang pada awalnya tidak berniat melakukannya. Selain itu, terkadang orang yang melakukan nazar itu melupakan apa yang telah ia ucapkan. Seperti dalam salah satu hadist berbunyi:

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

نَهَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ النَّذْرِ قَالَ « إِنَّهُ لاَ يَرُدُّ شَيْئًا ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bernazar, beliau bersabda: ‘Nazar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Nazar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil (pelit)’.” (HR. Bukhari no. 6693 dan Muslim no. 1639)

Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ النَّذْرَ لاَ يُقَرِّبُ مِنِ ابْنِ آدَمَ شَيْئًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ قَدَّرَهُ لَهُ وَلَكِنِ النَّذْرُ يُوَافِقُ الْقَدَرَ فَيُخْرَجُ بِذَلِكَ مِنَ الْبَخِيلِ مَا لَمْ يَكُنِ الْبَخِيلُ يُرِيدُ أَنْ يُخْرِجَ

Sungguh nazar tidaklah membuat dekat pada seseorang apa yang tidak Allah takdirkan. Hasil nazar itulah yang Allah takdirkan. Nazar hanyalah dikeluarkan oleh orang yang pelit. Orang yang bernazar tersebut mengeluarkan harta yang sebenarnya tidak ia inginkan untuk dikeluarkan. ” (HR. Bukhari no. 6694 dan Muslim no. 1640).

Lalu bagaimana dengan orang yang telah terlanjur melakukan nazar? Jika anda telah terlanjut mengucapkan nazar maka anda wajib membayarnya atau melunasinya.

Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ

Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka.” (QS. Al Hajj: 29).

Lakukanlah nazar jika itu untuk menjadika kita lebih taat kepada Alloh, seperti hadist dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ

Barangsiapa yang bernazar untuk taat pada Allah, maka penuhilah nazar tersebut. Barangsiapa yang bernazar untuk bermaksiat pada Allah, maka janganlah memaksiati-Nya. ” (HR. Bukhari no. 6696)

2. Jenis-jenis Nazar

Ada beberapa jenis nazar dari segi perbuatannya, yaitu:

(1)  Nazar taat dan ibadah seperti bernazar untuk bersedekah. Nazar taat adalah bernazar untuk melakukan amalan sunah seperti seperti shalat sunnah, puasa sunnah, sedekah, i’tikaf, umroh. Adapun jika seseorang bernazar untuk melakukan sholat lima waktu atau melaksanakan puasa Ramadhan bukanlah termasuk kedalam nazar taat. Hal ini dikarenakan dua amalan tersebut merupakan amalan ang wajib dilakukan umat manusia. Nazar seperti ini hukumnya wajib ditunaikan dan bila dilanggar harus membayar kaffarah (tebusan).

Dalil yang menunjukkan wajibnya adalah,

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ

Barangsiapa yang bernazar untuk taat pada Allah, maka penuhilah nazar tersebut.” (HR. Bukhari no. 6696)

(2)  Nazar mubah seperti bernazar untuk tidur. Nazar mubah itu bernazar untuk melakukan suatu perkara yang mubah/diperbolehkan dan bukan ibadah. Pada sebagian ulama menyatakan kalau nazar seperti ini tidak dilaksanakan juga tidak apa-apa dan tidak membayar kafarat juga tidak apa-apa.

(3)  Nazar maksiat. Contoh, bernazar untuk berzina dengan artis. Nazar seperti ini merupakan nazar yang sah tapi tidak boleh dilaksanakan dan harus membayar kaffarah. Sebagian ulama berpendapat tidak perlu membayar kafarah (tebusan).

وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ

Barangsiapa yang bernazar untuk bermaksiat pada Allah, maka janganlah memaksiati-Nya. ” (HR. Bukhari no. 6696)

(4)  Nadzar makruh. Contoh, bernazar untuk merokok. Nazar makruh merupakan bernazar untuk melakukan perkara yang makruh maka memilih antara melaksanakannya atau membayar kaffarah.

(5)  Nazar syirik. Contoh, bernazar untuk menyembah berhala. Nazar syirik yaitu yang ditujukan untuk mendekatkan diri kepada selain Allah maka nazarnya tidak sah dan tidak ada kaffarah, akan tetapi harus bertaubat karena dia telah berbuat syirik akbar.

3. Niat Puasa Nazar

Semua hal yang kita lakukan ini tergantung dari niat yang kita ucapkan. Nah untuk nazar sendiri apakah harus di ucapkan (di lafadzkan) atau tidak ya?

Ada beberapa pendapat mengenai hal ini, beberapa ustad mengatakan kalau bernazar itu tidak perlu mengucapakan niat atau lebih jelasnya niatnya cukup di hati saja. Akan tetapi, juga terdapat ustad yang mengatakan kalau bernazar itu wajib mengucapkan niatnya. Menurut ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com ) nazar tidak sah jika hanya sebatas niat atau belum diucapkan. Misalnya seseorang berniat, jika dia lulus ujian tahun ini, akan berpuasa daud selama sebulan lillahi ta’ala. Sebatas niat semacam ini, belum dianggap nazar yang sah, yang wajib dia laksanakan. Hal ini berdasarkan beberapa sumber antara lain:

Fairuz Abadzi – ulama syafiiyah – menegaskan,

ولا يصح النذر إلا بالقول

“Nazar tidak sah, kecuali diucapkan.” (Al-Muhadzab, 1/440) .

An-Nawawi dalam syarah Muhadzab memberikan penjelasan,

وهل يصح بالنية من غير قول … (الصحيح) باتفاق الأصحاب أنه لا يصح إلا بالقول ولا تنفع النية وحدها

Apakah nazar sah semata dengan niat, tanpa diucapkan…(yang kuat) berdasarkan sepakat ulama madzhab Syafii, bahwa tidak sah nazar kecuali diucapkan. Niat semata, tidak bermanfaat (tidak dianggap). (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 8/451)

Hal yang sama juga dinyatakan Al-Mardawi – ulama hambali – dalam Al-Inshaf,

ولا يصح (النذر) إلا بالقول ، فإن نواه من غير قول : لم يصح بلا نزاع

Nazar tidak sah kecuali dengan diucapkan. Jika dia hanya berniat, namun tidak dia ucapkan, tidak sah nazarnya, tanpa ada perbedaan pendapat. (Al-Inshaf, 11/118)

Dari penjelasan beliau kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sebaiknya ketika kita melakukan suatu nazar sebaiknya diucapkan niat, atau nazar yang sah adalah nazar yang di awali dengan pengucapann atau pelafasan niat secara jelas, tidak haya di hati saja. Seperti halnya puasa sunah senin kamis, berikut Bacaan Niat Puasa Nazar:

Niat Puasa Nazar

“NAWAITU SHAUMAN NADZRI LILLAHI TA’ALAA”

4. Kaffarah Nazar

Jika seseorang tidak mengerjakan nazar yang telah terucap olehnya maka ia diwajibkan membayar kafarrah. Apa itu kaffarah? Kaffarah merupakan tebusan. Lebih sering diucapkan atau disebut dengan kafarrah sumpah. Apa saja jenis-jenis kaffarah? Adapun beberapa jenis kafarah yang dijelaskan yaitu:

a)    Memberi makan kepada sepuluh orang miskin, atau

b)    Memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin, atau

c)    Memerdekakan satu orang budak

d)    Jika tidak mampu ketiga hal di atas, barulah menunaikan pilihan berpuasa selama tiga hari. (Lihat Surat Al Maidah ayat 89).

Sumber referensi:

  1. www.alkhoirot.net
  2. www.eramuslim.com
  3. www.rumaysho.com
  4. Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah. Hukum nazar dan kewajiban membayarnya. 2010
  5. alimamah.blogspot.com
  6. www.salamdakwah.com
  7. Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
  8. www.assaef.com

Itu tadi beberapa penjelasan singkat megenai puasa nazar. Tidak terlalu mendalam dan luas, akan tetapi semoga dapat menambah pengetahuan dan kecintaan kita terhadap islam. Maaf jika terdapat kesalahan pengetikan ataupun kesalahan penyampaian, karena Kesempurnaan hanya milik Alloh dan kesalahan datang dari diiri saya sendiri.

37 Comments

  1. yuli 22/01/2015 Reply
  2. mega 29/03/2015 Reply
    • kusnendar 30/03/2015 Reply
  3. Aini 02/04/2015 Reply
  4. Ikhy 11/05/2015 Reply
  5. tantowi 12/05/2015 Reply
    • kusnendar 12/05/2015 Reply
      • Ahmad 03/06/2015 Reply
  6. hafiz 05/06/2015 Reply
    • kusnendar 05/06/2015 Reply
      • hafiz 11/06/2015 Reply
  7. Shinta 08/07/2015 Reply
    • kusnendar 09/07/2015 Reply
    • rohmah 04/01/2016 Reply
      • kusnendar 06/01/2016 Reply
        • Dwi kartika 18/09/2016 Reply
          • kusnendar 20/09/2016
  8. Raffi 22/07/2015 Reply
    • kusnendar 22/07/2015 Reply
  9. Mega Syafira 12/09/2015 Reply
    • kusnendar 13/09/2015 Reply
  10. Lien 13/09/2015 Reply
    • kusnendar 13/09/2015 Reply
  11. Aiman 05/10/2015 Reply
  12. anonim 01/12/2015 Reply
  13. rizkky nuhuyanan 03/01/2016 Reply
  14. Noval 22/05/2016 Reply
    • kusnendar 23/05/2016 Reply
  15. tara 22/05/2016 Reply
  16. fay 29/08/2016 Reply
  17. Ihy 27/11/2016 Reply
    • kusnendar 27/11/2016 Reply

Kolom Komentar dan Bertanya